Hilangkan Stigma dan Diskriminasi Pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)

Oleh : Dwi Rukma Santi, SST., M.Kes
Stamp_out_stigma

HIV/AIDS merupakan new emerging diseasesdan merupakan pandemi di semua kawasan di Indonesia. Penyakit ini beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan angka kejadian yang  mengkhawatirkan, yaitu jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2012 sebanyak 86.762, sedangkan kasus jumlah kumulatif kasus AIDS dari tahun 1987 sampai dengan  Juni 2012 sebanyak 32.103 kasus (Wartaaids, 2012).

Salah satu kendala dalam pengendalian penyakit HIV/AIDS adalah stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA).  Herek & Capitiano (1999) mengatakan bahwa timbulnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA disebabkan oleh faktor risiko penyakit ini yang terkait dengan perilaku seksual yang menyimpang dan penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya atau narkoba. Wan Yanhai (2009) menyatakan bahwa orang-orang dengan infeksi HIV (HIV positif) menerima perlakuan yang tidak adil (diskriminasi) dan stigma karena penyakit yang dideritanya.

Stigma dan diskriminasi tidak saja dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang penyakit HIV/AIDS, tetapi dapat juga dilakukan oleh petugas kesehatan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yangdilakukan oleh Andrewin et al. (2008) di Belize, diketahui bahwa petugas kesehatan (dokter dan perawat) mempunyai stigma dan melakukan diskriminasi pada ODHA.

Beberapa bentuk stigma eksternal dan diskriminasi antara lain :

1)      Menjauhi ODHA atau tidak meginginkan untuk menggunakan peralatan yang sama.

2)      Penolakan oleh keluarga, teman atau masyarakat terhadap ODHA.

3)       Peradilan moral berupa sikap yang menyalahkan ODHA karena penyakitnya dan menganggapnya sebagai orang yang tidak bermoral.

4)      Stigma terhadap orang-orang yang terkait dengan ODHA, misalnya keluarga dan teman dekatnya.

5)      Keengganan untuk melibatkan ODHA dalam suatu kelompok atau organisasi.

6)      Diskriminasi yaitu penghilangan kesempatan untuk ODHA seperti ditolak bekerja, penolakan dalam pelayanan kesehatan bahkan perlakuan yang berbeda pada ODHA oleh petugas kesehatan.

7)      Pelecehan terhadap ODHA baik lisan maupun fisik.

8)      Pengorbanan, misalnya anak-anak yang terinfeksi HIV atau anak-anak yang orang tuanya meninggal karena AIDS.

9)      Pelanggaran hak asasi manusia, seperti pembukaan status HIV seseorang pada orang lain tanpa seijin penderita, dan melakukan tes HIV tanpa adanya informed consent (Diaz,et al.2011)

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menghadapi stigma dan diskriminasi adalah sebagai berikut :

  1. Jadilah contoh yang baik. Terapkan apa yang sudah kita ketahui . pikirkanlah kata-kata yang kita gunakan dan bagaimana memperlakukan ODHA, lalu cobalah untuk mengubah pikiran dan tindakanmu.
  2. Berbagilah pada orang lain mengenai hal-hal yang sudah kita ketahui dan ajaklah mereka untuk membicarakan tentang stigma dan bagaimana mengubahnya.
  3. Atasilah masalah stigma ketika anda melihatnya di rumah, tempat kerja dan masyarakat. Bicaralah, katakana masalahnya dan buatlah orang paham bahwa stigma itu melukai
  4. Lawanlah stigma melalui kelompok. Setiap kelompok dapat menemukan stigma dalam situasi mereka sendiri dan setuju untuk melakukan satu atau dua tindakan praktis agar terjadi perubahan.
  5. Mengatakan stigma sebagai sesuatu yang “salah” dan “buruk” tidaklah cukup. Bantulah orang yang bertindak melakukan perubahan. Setuju pada tindakan yang harus dilakukan, mengembangkan rencana dan lakukan.
  6. Berpikir besar, Mulai dari yang kecil dan bertindak sekarang.

Hal-hal yang dapat dilakukan secara individual :

  1. Waspada pada bahasa yang kita gunakan dan hindari kata-kata yang menstigma.
  2. Sediakan perhatian untuk mendengarkan dan mendukung anggota keluarga ODHA di rumah.
  3. Kunjungi dan dukung ODHA beserta keluarganya di lingkungan tempat tinggal kita.
  4. Doronglah ODHA untuk menggunakan layanan yang tersedia, seperti konseling, tes HIV, pengobatan medis, ART, dan merujuk mereka pada siapapun yang dapat menolong.

Hal-hal yang dapat dilakukan agar masyarakat membicarakan dan bertindak melawan stigma, yaitu :

  • Testimoni oleh ODHA maupun keluarganya mengenai pengalaman mereka hidup dengan HIV atau hidup dengan orang positif HIV.
  • Pengawasan bahasa (language watch). Lakukan “survey mendengarkan “ untuk mengidentifikasi kata-kata yang menstigma yang sering digunakan dalam masyarakat (di media maupun lagu-lagu popular)
  • Community mapping mengenai stigma. Tunjukkan peta pada tempat pertemuan.
  • Community walk untuk mengidentifikasi titik stigma di masyarakat.
  • Pertunjukan drama berdasarkan kisah nyata.
  • Pameran gambar sebagai titik fokus untuk memulai diskusi mengenai stigma.

Referensi :

  1. Kemenkes RI. 2012. Pedoman Penghapusan Stigma dan Diskriminasi Bagi Pengelola Program, Petugas Layanan Kesehatan dan Kader. Jakarta.
  2. Paryati, Tri. 2012. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Stigma dan Diskriminasi Pada ODHA Oleh Petugas Kesehatan : Kajian Literatur. Universitas Padjadjaran. Bandung.

Kaltim Pos. Stigma Masih Jadi Kendala Atasi HIV/AIDS. Minggu 15 Desember 2013.